HYMNE VS KONTEMPORER

Dewasa ini, dengan banyaknya aliran dan denominasi gereja dan pandangan teologis yang menyertainya secara umum juga berdampak pada tata ibadah dan liturgy dari gereja-gereja tersebut. Tata ibadah dan liturgy gereja yang berbeda-beda tersebut ternyata secara tidak langsung juga berdampak pada lagu-lagu yang dibawakan dan dinyanyikan  dalam rangkaian ibadah tersebut. Bahkan barangkali demokrasi dan liberalisasi yang masuk dalam gereja turut mengambil peranan dalam dinamika gereja, termasuk dalam music dan lagu di gereja.

Gereja-gereja yang boleh disebut sebagai aliran mainstream pada umumnya lebih suka mempertahankan dan memakai lagu-lagu hymne yang telah berusia ratusan tahun. Di dalam pelayanannyapun mereka masih mempertahankan citra klasiknya dengan mengiri jemaat menyanyi lagu hymne dengan hanya menggunakan iringan piano atau organ. Hal ini mungkin juga dikarenakan menyesuaikan dengan tata-ibadahnya.  Sebaliknya gereja-gereja yang lahir pada beberapa deckade belakangan ini, dengan pandangan teologis baru dan terpengaruh oleh demokratisasi bahkan liberalisasi gereja cenderung memainkan dan menyanyikan lagu-lagu pujian dan penyembahan yang baru bukan hymne. Seiring dengan tata-ibadahnya, biasanya dalam mengiring lagu-lagu pujian dan penyembahan yang kontemporer mereka memakai alat music yang lebih lengkap dan modern, bahkan dalam kasus tertentu ditambah lengkap dengan pentata-cahayaan lampu yang bagus dan luar biasa. Hampir mirip dengan konser sebuah supergroup rock yang megah dan bahkan kadang ada juga yang seperti mistis layaknya konser rock psychedelic.

Untuk saat ini, ada begitu banyak pendapat orang yang kurang suka dengan lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer dengan mengatakan bahwa biasanya lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer itu dangkal, miskin bahkan salah secara teologis dan tidak layak dinyanyikan meski lirik dan nadanya bagus. Hal ini sekilas ada benarnya. Tetapi kita harus meninjau sedikit lebih jauh lagi untuk melihat masalah ini dengan jernih. Mengapa lagu-lagu hymne terlihat “sangat besar” dibandingkan dengan lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer? Banyak orang tidak menyadari, bahwa satu generasi pencipta lagu pujian dan penyembahan kontemporer jelas tidak bisa bersaing dengan lima puluh generasi penulis lagu hymne. Hymne pada masa lalu diciptakan oleh orang-orang dengan bakat luar biasa misalnya Charles Wesley, Fanny J. Crosby, Newton dan yang lain-lainya. Mereka semua disamping punya bakat yang luar bisa, mereka hidup relative di jaman dan peradaban yang sama sekali berbeda dengan jaman sekarang. Selain itu yang harus disadari benar oleh kita semua, bahwa sebetulnya lagu-lagu pujian yang ada di buku-buku lagu di gereja adalah kumpulan dari lagu (hymne) “the best of the best”, hanya kumpulan yang terbaik dari yang baik. Kumpulan dari hymne terbaik dari hymnwriter sepanjang masa. (Sebagai contoh hanya 42 hymne dari 6500 hymne karya Charles Wesley yang masuk dalam buku hymne Methodist, atau Paul Gerhardt yang dianggap sebagai penulis hymn terbaik Jerman tapi tidak sampai sepuluh karya hymnenya yang masuk dalam buku-buku hymne.) Jadi para editor buku hymne bisa terus memilih hymne terbaik setiap generasi untuk mewakilinya untuk dimasukkan dalam buku hymnenya. Saya setuju jika hymne itu meski sudah berusia ratusan tahun yang lalu tapi akan bertahan terus hingga ratusan tahun mendatang, tetapi betapapun “besar” kelihatannya hymne itu, penciptaan lagu hymne baru cenderung berhenti. Penciptaan hymne yang sebagus dan seindah karya hymnwriters masa lalu sudah jarang dibuat lagi.

Saya pribadi berpendapat bahwa sekarang itu saat “fajar menyingsing” bagi lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer, meski para pencipta lagu pujian dan penyembahan kontemporer masih butuh beberapa generasi lagi untuk mendapat kualitas teologis dan musik yang “sama” dengan pencipta hymne di masa lalu. Hal ini terlihat dengan banyaknya gereja mainstream yang mulai membuka diri dengan memasukan lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer dalam ibadah mereka bahkan sudah menyisipkannya dalam tambahan buku-buku lagu pujian mereka. Bangkitnya lagu pujian dan penyembahan kontemporer pada jaman sekarang tidak terlepas dengan situasi dan kondisi saat ini dimana keadaannya jelas berbeda dengan situasi pada masa ratusan tahun lalu. Sebagai contoh, diluar masalah teologis, pada saat ini ada industri musik luar biasa yang didukung dengan tehnologi yang luar biasa dan beyond imagination, dengan perangkat sound system dan piranti digital yang mutakhir, hal ini diakui atau tidak juga factor pendorong industrialisasi lagu-lagu gereja dan music gereja, dalam hal ini khususnya lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer. Bahkan lagu-lagu “hymne” pun merasakan dampak keuntungannya dengan munculnya rekaman-rekaman baru dalam bentuk digital, CD, DVD bahkan MP3 yang bisa diunduh di internet dengan mudah. Hal ini semua mendorong generasi baru, orang-orang cinta Tuhan untuk makin kreatif dan berani mengekspresikan diri dan dengan berani pula menyambut berkat-berkat-Nya sebagai konsekuensi logis.

Mungkin pada suatu ketika kelak, ratusan tahun yang akan datang, seiring bertambahnya pengalaman dan pemahaman teologis para pencipta lagu dan musisi lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer, maka lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer akan menjadi suatu “hymne” jenis baru yang sama besarnya dan sama “sakral”nya dengan hymne yang selama ini kita kenal. Tidak salah jika gereja masa kini mulai menyesuaikan diri dengan memakai kedua jenis lagu yang dipandang baik dan sesuai kebutuhan dalam tata ibadahnya.

Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s