Pernahkah kita berpikir bahwa cinta Eros itu merupakan anugerah yg sangat bernilai?
Tuhan sendiri yg menciptakan manusia sbg mahkluk seksual dgn banyak tujuan yg baik dan mulia.
Umumnya ketika kita menyukai dan mencintai seseorang, budaya kita mengajarkan dan mengarahkan kita pada hal-hal “rohani”, misalnya harus mencintai dgn tulus hati, setia sampai mati, suci dsb. Umumnya jika kita mengungkapkan secara terbuka kesukaan kita secara fisik dan hal-hal yg bersifat badani dipandang kurang suci, kurang tulus dsb. Bahkan ada istilah “cinta sejati tidak melihat fisik”.
Pengaruh filsafat Yunani purba lah yg menjadi penyebabnya yaitu Dikotomi, pemisahan. Seolah-olah hal yg rohani itu baik/suci dan semua hal bersifat materi itu kurang baik, tidak suci bahkan jahat.
Ketika kita mencintai dan menyukai seseorang, memang mutlak harus baik secara rohani, (cinta yg tulus, rasa sayang & pengertian yg tinggi, kesetiaan dsb.) tetapi akan sangat SEHAT jika disertai juga rasa suka amat sangat terhadap tubuh dan fisik pasangan kita (baik utk pria maupun wanita)
Inilah cinta Romantic-Erotic. Seharusnya seluruh panca-indera kita suka dan puas menikmati tubuh dan ketelanjangan pasangan kita. Mata kita tidak puas-puasnya memandang wajah suami/istri kita, keindahan tubuh suami/istri/pasangan kita yg telanjang, ataupun seluruh indera kita hapal segala seluk beluk tubuh pasangan kita, rasanya, baunya dan segalanya.
Tapi ini semua harus dibedakan dgn “LUST” atau nafsu semata, yg hanya suka secara fisik saja, pemujaan tubuh, sekedar memuaskan nafsu hewani, tetapi tanpa Cinta-Kasih.
Memuaskan libido, memuaskan passion tanpa henti, menikmati sepenuhnya tubuh dan ketelanjangan pasangan kita, mengeksplorasinya, menghayatinya dgn berbagai cara dan variasi bahkan yg eksperimental serta melibatkan emosi mendalam juga melibatkan rasa ikhlas penuh untuk memberi diri untuk dihayati, dieksplorasi dan dinikmati oleh istri/suami/pasangan akan menjadi petualangan hidup yg menyenangkan, asal didasari Cinta-Suci penuh Kasih Sayang yg mesra serta di dalam ikatan Perkawinan yg Kudus dan Suci. Dan yg penting janganlah itu semua menjadi berhala baru yg menggantikan fokus perhatian kita pada Tuhan sendiri.
Tetaplah bahagia, rohani dan jasmani. Gbu.

“Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!” – Kidung Agung 8:6 – at Pacet

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s