Menjadi Garam Dunia

Tema       : “Menjadi Garam Dunia”
Bacaan    : Matius 5:13
Khotbah  : 16 September 2016
Tempat   : Kapel Bethesda

Saya berhari-hari merenungkan kira-kira tema apa atau hal apa yang ingin saya angkat untuk bahan kotbah saya. Akhirnya saya menemukan suatu tema kotbah yang cukup menarik bagi saya, sederhana tapi cukup menggelitik bagi saya dan semoga demikian juga bagi kita semua. Tujuannya agar kita semua bisa mengingat kembali, merefresh, mengerti akan ayat ini, ayat yang special karena diucapkan oleh Yesus sendiri dan dialamatkan langsung kepada murid-muridnya.
Mari kita baca bersama-sama, Matthew 5:13

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Ini adalah bagian dari kotbah terbesar sepanjang jaman yang pernah dilakukan oleh manusia. Bagian dari Kotbah di Bukit. Tema besarnya adalah Yesus mengajarkan bagaimana pengikutnya harus menjalani hidup dan memberi dampak pada lingkungan dimana dia tinggal dengan cara yang positif.
Tapi berapa banyak dari kita ingin menjadi seperti garam? Mungkin kita harus menyarankan Yesus bahwa sudah waktunya untuk merevisi Khotbah di Bukit? “Ya Tuhan, kami menghormati setiap kata Anda, tapi tidak bisa Anda gunakan metafora lebih menarik? Bagaimana, jika diganti “Kamu adalah gula dunia. Jika gula itu menjadi manis, dengan apakah ia dimaniskan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” Hidup di dunia yang kecanduan gula, pasti gula akan menjadi istilah yang lebih diterima bagi orang-orang modern. Garam adalah out-of-date. Gula jauh lebih menarik.
Tapi untuk saat ini kita tetap berpegang pada Injil Kristus Dia mengatakan para pengikutnya bahwa kita dimaksudkan untuk menjadi seperti garam, zat rasa asin yang biasanya digunakan dalam jumlah yang relatif kecil.

Yang menarik dalam kotbah ini, Yesus tidak memberi keterangan rinci mengenai apa maksud Yesus. Hal ini agak berbeda dengan pasal 13 mengenai perumpamaan tentang penabur dimana Yesus secara jelas memberitahu kita apa yang ingin kita mengerti. Dengan demikian, kita harus belajar memahami “Apa artinya itu?”, “Apa arti pentingnya garam?”, “Orang Kristen yang bagaimana yang seperti garam?” Tanpa kita tahu apa arti garam, terutama garam pada masa Yesus kita tidak bisa sungguh-sungguh mengerti dan memahami ayat ini.

GARAM SEBAGAI PENGAWET
Para Bapa Gereja menekankan nilai garam sebagai pengawet “garam mempertahankan daging dari pembusukan, bau dan dari cacing,” kata Origenes. “Itu membuat daging bisa dimakan untuk jangka waktu lama.”
Sifat dan kegunaan garam yang menonjol adalah sebagai pengawet dan mencegah pembusukan. Pada dasarnya, garam bekerja dengan mengeringkan makanan. Garam menyerap air dari makanan, membuat lingkungan terlalu kering untuk mendukung tempat berbahaya atau bakteri. Garam menarik air keluar dari sel melalui proses osmosis. Jika Anda menambahkan cukup garam, terlalu banyak air akan habis dari sel. Organisme yang membuat busuk makanan dan menyebabkan penyakit yang dibunuh oleh konsentrasi garam yang tinggi.
Garam adalah untuk menghambat proses pembusukan, demikian juga orang Kristen diberi tugas menangkap pembusukan dunia kita.
D. James Kennedy dalam sebuah bukunya memberi uraian menarik mengenai orang Kristen dalam hubungannya dengan pencegahan pembusukan ini,

“Orang Kristen sebenarnya telah memiliki efek positif yang menonjol pada dunia ini. Dampak yang paling dramatis Kristen di dunia adalah bahwa ia telah memberi nilai baru bagi kehidupan manusia. Sebelum Kekristenan pembunuhan bayi, dan membuang anak-anak adalah praktek umum. Rumah sakit seperti yang kita kenal sekarang dimulai melalui pengaruh Kristen. Organisasi Palang Merah dimulai oleh seorang Kristen Injili. Hampir setiap satu dari 123 perguruan tinggi pertama dan universitas di Amerika Serikat memiliki asal-usul Kristen yang kental, didirikan oleh orang-orang Kristen untuk tujuan-tujuan Kristen. Hal yang sama juga terjadi untuk panti asuhan, lembaga adopsi, perlakuan yang manusiawi untuk orang-orang gila, dan daftar berjalan terus dan terus bagi dampak dramatis Kristen di dunia kita.” – D. James Kennedy.

Bahkan lebih jauh lagi D. James Kennedy menyinggung pula bahwa:
“Keterlibatan Amerika secara langsung di banyak konflik regional di seluruh dunia juga didasari sikap dan semangat untuk menjadi garam dan terang dunia.” – D. James Kennedy
Kita tahu hampir tidak ada konflik di dunia ini yang tidak melibatkan Amerika Serikat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pemerintah Amerika banyak terlibat dalam penggulingan-penggulingan pemerintah atau kepala Negara yang dianggap tidak compatible dengan demokrasi. Pemerintah Amerika banyak terlibat langsung baik sendiri maupun bersama-sama dengan Negara-negara lain turun untuk menjaga perdamaian jika ada konflik-konflik atau krisis di sebuah kawasan regional.
Tentu kita boleh tidak setuju dengan pendapat D. James Kenedy ini. Dan masih bisa diperdebatkan Terutama mengenai cara-cara Negara Amerika menjadi Polisi Dunia tetapi kita harus setuju bahwa orang Kristen harus terus memiliki manfaat positif pada dunia kita. Sebagai antiseptik moral, Kristen menjaga korupsi masyarakat di dengan melawan pembusukan moral dengan kehidupan dan kata-kata kita.
Jika kita sebagai orang Kristen kehilangan kualitas Kristus yang membuat kita berbeda dan menjadi seperti masyarakat di sekitar kita, kita tidak lagi memiliki dampak positif. Hanya menjadi hambatan bukan pengawet.
Secara teknis garam tidak bisa kehilangan rasa asin,

GARAM SANGAT BERHARGA
Sebegitu pentingnya garam dalam kehidupan, sehingga Plato menggambarkan garam sebagai “Sebuah material yang dicintai dewa.”, Aristoteles menulis bahwa garam adalah “hadiah musim semi yang berasal dari dewa” dan Homer menyebut garam sebagai “Wahyu Ilahi”.
Pada awal abad ke-6, di sub-Sahara, pedagang Moor rutin diperdagangkan garam ounce untuk ounce untuk emas. Di Abyssinia, garam batu, yang disebut ‘amôlés, menjadi koin dari kerajaan. Masing-masing adalah panjang sekitar sepuluh inci dan tebal dua inci. Garam juga digunakan sebagai uang di daerah lain di Afrika Tengah.
Pada masa Romawi Kuno, harga garam sangat mahal. Oleh karena mahalnya garam pada masa itu lalu dipakai untuk membayar gaji para pekerja dan prajurit dengan salarium (garam). Istilah salarium (Latin) yang maksudnya ‘garam’ itu dipakai untuk gaji yang kemudian diambil ke dalam bahasa Inggris Salary.
Dari semua jalan yang menuju ke Roma, salah satu jalan tersibuk adalah Via Salaria, rute garam, di mana tentara Romawi berbaris mengawal pedagang dgn gerobak sapi penuh kristal berharga melewati Tiber dari tempat garam di Ostia.
Selama Abad Pertengahan, penghargaan yang tinggi garam bahkan menjadi takhayul. Menumpahkan garam dianggap alamat pertanda buruk, pertanda kiamat. (Dalam Leonardo da Vinci melukis The Last Supper, Yudas cemberut ditunjukkan dengan tempat garam terbalik di depannya.) Pada masa itu setelah menumpahkan garam, si penumpah harus melemparkan sejumput itu di bahu kiri karena sisi kiri dianggap menyeramkan, tempat di mana roh-roh jahat cenderung berkumpul.
Amy Vanderbilt Complette Book of Etiket. Sampai akhir abad ke-18, pangkat tamu di perjamuan itu diukur dengan mana mereka duduk dalam kaitannya dengan tempat garam perak sering rumit di atas meja. Tamu makin elit maka akan duduk paling dekat dengan tempat garam, dimana tempat garam itu otomatis dekat dengan tuan rumah.
Jadi ketika Yesus berkata, “Kamu semua Anda adalah garam dunia.” Yesus mengacu pada sekelompok murid yang pada dasarnya tidak berpendidikan dan menyebut mereka sebagai garam dunia. Sungguh martabat besar yang Yesus berikan pada pengikutnya. Suatu pujian besar! Jadi sesungguhnya merupakan pujian besar bagi kita murid-muridnya ketika Yesus berkata kepada kita bahwa kita adalah garam dunia.

Kesimpulan
1. Orang Kristen atau anak Tuhan harus menyadari posisinya sbg garam dunia, ketika Yesus menyebut murid-muridnya sbg kamulah garam dunia itu adalah pujian, atau penempatan yang sangat tinggi, lebih-lebih mengingat kebanyakan murid-muridnya adalah orang biasa yang kurang terdidik. Kita harus punya rasa identitas diri yang baik. Sama seperti garam pada masa lalu. Sangat berharga, sangat tinggi nilainya.
2. Bekerja seperti garam yaitu mencegah pembusukan. Kita tahu bahwa dunia sekitar kita itu penuh kejahatan, banyak orang yang tidak baik, banyak orang menyimpang, banyak orang tidak tau arah, dalam situasi inilah kita harus menggarami mereka. Rajin menyuarakan kebenaran yang berlandaskan Firman Tuhan.
Mathew Henry Commentary dengan sangat bagus menggambarkan bahwa murid-murid yang bekerja seperti garam yaitu bekerja secara diam-diam, walau sedikit tetapi berdampak sampai kemana-mana rasanya, bekerja tanpa terasa dan tanpa adanya penolakan.
3. Yesus mengatakan, “Jika garam menjadi tawar dengan apakah dia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang”. Bagaimana ini? Secara teknis, garam tidak bisa tawar; natrium klorida (NaCl) adalah senyawa yang stabil. Tapi di bagian dunia di mana Yesus hidup, garam dikumpulkan dari sekitar Laut Mati di mana kristal2 yang terbentuk sering terkontaminasi dengan mineral lain. Formasi kristal penuh kotoran dan mineral lain, dan karena garam yang sebenarnya lebih mudah larut dari kotoran, termasuk hujan bisa “mencuci” garam, yang membuat apa yang tersisa jadi kurang layak karena kehilangan asin. Ketika ini terjadi, garam dilempar keluar, karena itu tidak lagi dari nilai apapun baik sebagai pengawet atau penyedap. Ketika garam itu tercuci keluar itu masih tampak seperti garam, tetapi kehilangan rasa. “Salah satu Khasiat garam yg unik yaitu bahwa meskipun mungkin telah kehilangan keasinannya … masih tetap punya salah satu potensi yang sangat dahsyat . bahan langka dan luar biasa, yaitu masih bisa … . menghancurkan kehidupan tanaman di tanah … . prinsip yang sama berlaku dalam kasus orang Kristen . Apakah kehidupan kita baik dan untuk Allah atau malah membuat dampak jahat … . Cara kita hidup , hal-hal yang kita katakan, gaya hidup yang kita adopsi … terus memuat hasil positif atau negatif dalam masyarakat … . hidup kita, apakah kita sadar atau tidak, baik untuk Tuhan atau melawan Dia . Tidak hanya ada jalan tengah . ” [W. Phillip Keller . Salt for Society . (Waco : Word Books , 1981) p . 145-149 ]
4. Orang Kristen atau anak-anak Tuhan seperti garam, supaya bekerja mereka harus kontak atau berelasi dengan orang lain. Seperti yang telah kita mencatat, orang Kristen adalah untuk menjadi kekuatan melestarikan di dunia mana pun Allah telah menempatkan mereka. Tapi garam tidak pernah baik saja ketika ditingal di rak. Agar efektif, garam harus digosok ke daging, dimasukkan di masakan dsb. Dalam cara yang sama orang Kristen dipakai Allah di mana pun ia telah menempatkan mereka. Anak Tuhan harus masuk ke masyarakat luas, ke dunia nyata. Kita di sini masih bukan dunia nyata, dunia nyata itu di luar sana. Tempat ini hanya tempat belajar, meskipun semuanya nyata.
Saya ingin kita semua memperhatikan apa yang Yesus katakan dan tidak katakan, Dia tidak mengatakan, “Kamu semua bisa menjadi garam dunia.” Dia juga tidak mengatakan, “Kamu semua harus menjadi garam dunia.” Kata Yesus ” Kamu adalah garam duna!” dan dalam bahasa Yunani secara harfiah berarti “Kamu dan kamu sendiri adalah garam dunia!”
Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s