Hanya dari Jesus kita menerima Kasih-Karunia (Grace), bahkan dari Kasih-Karunia ke Kasih-Karunia (Grace upon Grace)!

(Baca: John 1:16-17) – at Pacet

View on Path

Advertisements

MENGARAHKAN HIDUP

Semua orang umumnya berjuang untuk menjadi seseorang seperti yang diidolakannya. Idola manusia pada umumnya adalah menjadi orang yang berlimpah harta, berpendidikan tinggi, berpangkat, berpenampilan menarik, cantik atau ganteng, terkenal, dan lain sebagainya. Hal ini bukan saja terjadi dalam kehidupan orang-orang non-believer, tetapi juga orang-orang Kristen yang tidak mengenal kebenaran sesungguhnya. Dengan cara dan gaya hidup seperti ini mereka tidak memikirkan Tuhan dan Kerajaan-Nya. Mereka hanya memikirkan dunia ini dengan segala kesenangannya. Ini berarti mereka hanya membangun kerajaannya sendiri.
Percuma mereka mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami:
“datanglah kerajaan-Mu”.

Dari kecil setiap anak manusia sudah dijejali obsesi-obsesi dan segala cita-cita orang tua. Sehingga hidup mereka terpola berpusat kepada diri sendiri atau berpusat kepada manusia (anthropocentris). Seharusnya orang tua membimbing anak-anak menemukan rencana Allah dalam hidup mereka secara khusus. Bukan memaksakan kehendaknya sendiri kepada anak-anak. Harus diingat bahwa anak-anak adalah milik pusaka Tuhan yang dipercayakan kepada orang tua. Orang tua harus menuntun anak-anak sesuai dengan kehendak Pemiliknya.

Begitu seorang anak manusia terlahir dan membuka mata, maka ia sudah menerima masukan nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai di sini artinya ukuran yang digunakan untuk menilai apakah sesuatu itu berharga, berkualitas tinggi dan bernilai atau sebaliknya. Nilai-nilai ini terbangun secara permanen dalam kehidupan sejak kanak-kanak. Itulah yang mengarahkan peta hidup seseorang. Gambar diri yang dibangun oleh seseorang untuk dapat diwujudkan secara konkret dalam kehidupan ini pada umumnya adalah menjadi sosok yang dikagumi, dipuja dan dihormati manusia lain. Kalau orang tua sudah mengarahkan anak-anak kepada suatu nilai, maka ke arah itu anak tersebut menujukan hidupnya. Kalau orang tua mengajarkan bahwa uang adalah nilai tertinggi kehidupan maka anak-anak akan berusaha menjadi kaya secara materi. Kalau orang tua sudah mengarahkan bahwa gelar adalah nilai tertinggi kehidupan, maka anak-anak akan mengarahkan hidupnya pada dunia akademis untuk meraih gelar tertentu.

Banyak orang mati dalam dosa dan kegelapan, tahun-tahun umur hidupnya hanya digunakan untuk membangun gambar diri yang salah. Inilah yang disebut “disorientasi” yaitu hidup dengan fokus yang salah. Hal ini yang menyeret seseorang hidup dalam kesia-siaan (Pkh. 1:2). Menjadi pintar, kaya, berkedudukan, terhormat, terkenal sebenarnya tidak salah, tetapi masalahnya adalah untuk apakah semua itu? Bila prestasi kehidupan ini hanya untuk supaya dikagumi manusia lain dan berharap bisa menikmati kebahagiaan, maka ini adalah suatu penyesatan. Tuhan Yesus menyatakan bahwa apa yang dikagumi manusia dibenci oleh Allah (Luk. 16:15) dan hidup manusia tidak tergantung dari kekayaannya (Luk. 12:15). Selanjutnya Alkitab juga mengajarkan agar orang percaya tidak boleh menjadi sama dengan dunia ini (Rm. 12:2). Kalau gereja sendiri membanggakan prestasi manusia secara keliru, misalnya menghormati orang kaya, membanggakan gelar dan lain sebagainya, maka jemaat menjadi semakin tersesat. Di lingkungan dunia mereka sudah menjadi sesat, kemudian gereja pun semakin memantapkan kesesatan itu.

Kebodohan banyak manusia hari ini adalah tidak mengerti apa hidup itu, mereka hanya mengerti apa kebutuhan fisiknya, mereka tidak mengerti apa manusia itu dan bagaimana seharusnya menyelenggarakan hidupnya. Mereka hanya berusaha mencapai apa yang diidolakan. Tentu mereka tidak belajar mengenal Allah. Mereka mengukur diri sendiri dan orang lain dengan ukuran yang salah, sesuai dengan kehidupan yang diidolakan. Tidak sedikit pelayan jemaat yang sebenarnya masih mengidola sesuatu, seperti menjadi pendeta besar, teolog yang terhormat di lingkungan akademis Sekolah Teologi, terhormat di kalangan para rohaniwan, menjadi pimpinan sebuah sinode dan lain sebagainya. Itulah idola mereka. Mereka pasti belum mengerti Kasih yang sesungguhnya. Mereka menjadi orang-orang yang oportunis. Tidak jarang justru mereka yang merusak pelayanan pekerjaan Tuhan. Inilah faktanya, dunia akademis Sekolah Teologi menjadi sarana dan tempat banyak teolog dan rohaniwan mengaktualisasi diri yang tidak dibangun di atas gambar diri Yesus yang menjadi teladannya, sehingga mereka mentransfer spirit yang buruk kepada anak didiknya yang adalah calon-calon pendeta. Betapa rusaknya gereja yang menerima lulusan Sekolah Teologi dengan spirit yang buruk tersebut. Lulusan itu hanya mentransfer “ilmu teologi”, tetapi tidak menunjukkan keteladanan gambar diri anak Allah yang serupa dengan Yesus.

Selamat hari Senin. Selamat berkarya.
Gbu – at Pacet

View on Path