PANGGILAN & PELAYANAN

Untuk menyelenggarakan pelayanan dengan tujuan yang benar, seorang pelayan Tuhan harus terlebih dahulu menemukan isi dan tujuan hidupnya yang benar, seperti yang Tuhan kehendaki.
“Teknik-teknik pelayanan”, kerendahan hati, sopan santun, pembawaan diri yang baik dan lain sebagainya haruslah buah dari pribadi Kristus yang dikenakan. Hal ini tidak dapat dipelajari dalam tiga atau empat tahun kuliah. Kita tidak akan bisa menggantikan kerja keras untuk dapat memperagakan Pribadi Kristus dengan ikut beberapa seminar, retret, camp-camp dan program-program pembinaan seumur jagung. Melayani Tuhan adalah proses pembinaan diri yang tidak boleh berhenti, ditambah dengan tindakan nyata contoh kehidupan konkret sebagai “hamba Kristus“ yang diimpartasikan kepada jemaat yang dilayani.

Ini adalah sebuah proses kehidupan yang harus berlangsung setiap hari melalui tahun-tahun panjang dan yang harus efektif demi proses pendewasaan atau kematangannya. Dalam hal ini “jiwa hamba” bukan berangkat dari uang yang diserahkan untuk pelayanan gerejani, bukan berangkat dari kursus Alkitab atau Sekolah Tinggi Teologi, bahkan bukan pada jabatan sinode sebagai pendeta yang disandangnya. Jiwa hamba berangkat dari pertobatan setiap hari oleh kebenaran Firman Tuhan yang mencerahi atau memperbaharui pikiran, kesediaan bersekutu dengan Tuhan dan saudara seiman yang tidak palsu dan penyangkalan diri terus menerus dalam proses panjang seperti yang disebutkan di atas.

Melayani adalah panggilan setiap orang percaya, tetapi panggilan ini bukanlah dasar yang memotori seseorang bergerak melayani Tuhan. Jika demikian panggilan menjadi suatu kewajiban atau tugas, kemudian menjadi profesi. Tidak jarang pelayanan menjadi sarana untuk memperoleh kehidupan yang layak, bahkan dianggap sebagai prestasi atau keberhasilan seperti anak-anak dunia memiliki keberhasilan yang diukur dengan materi, jabatan dan penghormatan. Hal ini sangat bisa terjadi ketika seseorang yang merasa memiliki panggilan sebagai pelayan Tuhan yang melayani pekerjaan-Nya menemukan peluang untuk “sukses”. Dikarenakan belum memasuki proses pendewasaan yang baik dan benar, maka ambisi pribadi akan muncul dan mendominasi seluruh kegiatan pelayanannya. Perlu diperhatikan di sini, bahwa hidup sepenuh bagi Tuhan adalah hukum anak tebusan yang tidak dapat direduksi nilainya (2Kor. 5:14-15), inilah hidup baru yang sesungguhnya (2Kor. 5:17). Hidup baru bukan hanya berarti sudah menjadi Kristen dan pergi ke gereja, bukan hanya berarti sudah mengambil keputusan menjadi pelayan Tuhan atau pendeta, tetapi sepenuhnya hidup bagi kepentingan-Nya.

Pelayanan haruslah sebuah ekspresi atau buah dari pendewasaan rohani yang benar dari sekolah kehidupan, yang melahirkan jiwa hamba seperti Yesus. Hal ini terjadi sebab harus memperagakan pribadi-Nya atau menerjemahkan semangat-Nya dalam kehidupan secara konkret. Harus memperagakan di sini bukan “to do” tetapi “to be”, bukan karena harus melakukan tetapi sudah menjadi natur atau kodrat untuk melakukan atau melayani. Pada akhirnya pelayanan bukan sebagai profesi tetapi dedikasi, pelayanan bukan sebagai kewajiban tetapi kebutuhan. Di sini yang dibutuhkan bukan pelajaran “teknik” menjadi hamba seperti Kristus, tetapi bagaimana bertumbuh dewasa mengenakan pribadi Kristus (to be cloned).

Pelayanan yang benar pasti tidak terfokus kepada pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi terfokus pada pemberitaan kebenaran yang murni dari apa yang diajarkan Tuhan Yesus dalam keempat Injil dan surat-surat Perjanjian Baru. Dalam hal ini standar hidup bangsa Israel tidak boleh menjadi tolak ukur atau standar kehidupan umat Perjanjian Baru. Dewasa ini banyak ayat Perjanjian Lama, yang konteksnya untuk bangsa Yahudi, dikenakan dalam kehidupan umat Perjanjian Baru. Kelihatannya benar, karena diambil dari ayat-ayat Alkitab, tetapi sebenarnya hanya “ayatiah” tetapi tidak Alkitabiah. Dampaknya sangat buruk, bahkan mengerikan. Jemaat menjadi duniawi, fokus jemaat kepada pemenuhan kebutuhan jasmani. Praktik aneh berlangsung dalam gereja, karena jemaat membutuhkan “imam besar” untuk menemui Tuhan. Akhirnya gereja menjadi tempat di mana pelayan-pelayannya menjual jasa demi pemenuhan kebutuhan jasmani umat. Semua menjadi luncas. Gbu – at Pacet

View on Path

Advertisements