MENGARAHKAN HIDUP

Semua orang umumnya berjuang untuk menjadi seseorang seperti yang diidolakannya. Idola manusia pada umumnya adalah menjadi orang yang berlimpah harta, berpendidikan tinggi, berpangkat, berpenampilan menarik, cantik atau ganteng, terkenal, dan lain sebagainya. Hal ini bukan saja terjadi dalam kehidupan orang-orang non-believer, tetapi juga orang-orang Kristen yang tidak mengenal kebenaran sesungguhnya. Dengan cara dan gaya hidup seperti ini mereka tidak memikirkan Tuhan dan Kerajaan-Nya. Mereka hanya memikirkan dunia ini dengan segala kesenangannya. Ini berarti mereka hanya membangun kerajaannya sendiri.
Percuma mereka mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami:
“datanglah kerajaan-Mu”.

Dari kecil setiap anak manusia sudah dijejali obsesi-obsesi dan segala cita-cita orang tua. Sehingga hidup mereka terpola berpusat kepada diri sendiri atau berpusat kepada manusia (anthropocentris). Seharusnya orang tua membimbing anak-anak menemukan rencana Allah dalam hidup mereka secara khusus. Bukan memaksakan kehendaknya sendiri kepada anak-anak. Harus diingat bahwa anak-anak adalah milik pusaka Tuhan yang dipercayakan kepada orang tua. Orang tua harus menuntun anak-anak sesuai dengan kehendak Pemiliknya.

Begitu seorang anak manusia terlahir dan membuka mata, maka ia sudah menerima masukan nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai di sini artinya ukuran yang digunakan untuk menilai apakah sesuatu itu berharga, berkualitas tinggi dan bernilai atau sebaliknya. Nilai-nilai ini terbangun secara permanen dalam kehidupan sejak kanak-kanak. Itulah yang mengarahkan peta hidup seseorang. Gambar diri yang dibangun oleh seseorang untuk dapat diwujudkan secara konkret dalam kehidupan ini pada umumnya adalah menjadi sosok yang dikagumi, dipuja dan dihormati manusia lain. Kalau orang tua sudah mengarahkan anak-anak kepada suatu nilai, maka ke arah itu anak tersebut menujukan hidupnya. Kalau orang tua mengajarkan bahwa uang adalah nilai tertinggi kehidupan maka anak-anak akan berusaha menjadi kaya secara materi. Kalau orang tua sudah mengarahkan bahwa gelar adalah nilai tertinggi kehidupan, maka anak-anak akan mengarahkan hidupnya pada dunia akademis untuk meraih gelar tertentu.

Banyak orang mati dalam dosa dan kegelapan, tahun-tahun umur hidupnya hanya digunakan untuk membangun gambar diri yang salah. Inilah yang disebut “disorientasi” yaitu hidup dengan fokus yang salah. Hal ini yang menyeret seseorang hidup dalam kesia-siaan (Pkh. 1:2). Menjadi pintar, kaya, berkedudukan, terhormat, terkenal sebenarnya tidak salah, tetapi masalahnya adalah untuk apakah semua itu? Bila prestasi kehidupan ini hanya untuk supaya dikagumi manusia lain dan berharap bisa menikmati kebahagiaan, maka ini adalah suatu penyesatan. Tuhan Yesus menyatakan bahwa apa yang dikagumi manusia dibenci oleh Allah (Luk. 16:15) dan hidup manusia tidak tergantung dari kekayaannya (Luk. 12:15). Selanjutnya Alkitab juga mengajarkan agar orang percaya tidak boleh menjadi sama dengan dunia ini (Rm. 12:2). Kalau gereja sendiri membanggakan prestasi manusia secara keliru, misalnya menghormati orang kaya, membanggakan gelar dan lain sebagainya, maka jemaat menjadi semakin tersesat. Di lingkungan dunia mereka sudah menjadi sesat, kemudian gereja pun semakin memantapkan kesesatan itu.

Kebodohan banyak manusia hari ini adalah tidak mengerti apa hidup itu, mereka hanya mengerti apa kebutuhan fisiknya, mereka tidak mengerti apa manusia itu dan bagaimana seharusnya menyelenggarakan hidupnya. Mereka hanya berusaha mencapai apa yang diidolakan. Tentu mereka tidak belajar mengenal Allah. Mereka mengukur diri sendiri dan orang lain dengan ukuran yang salah, sesuai dengan kehidupan yang diidolakan. Tidak sedikit pelayan jemaat yang sebenarnya masih mengidola sesuatu, seperti menjadi pendeta besar, teolog yang terhormat di lingkungan akademis Sekolah Teologi, terhormat di kalangan para rohaniwan, menjadi pimpinan sebuah sinode dan lain sebagainya. Itulah idola mereka. Mereka pasti belum mengerti Kasih yang sesungguhnya. Mereka menjadi orang-orang yang oportunis. Tidak jarang justru mereka yang merusak pelayanan pekerjaan Tuhan. Inilah faktanya, dunia akademis Sekolah Teologi menjadi sarana dan tempat banyak teolog dan rohaniwan mengaktualisasi diri yang tidak dibangun di atas gambar diri Yesus yang menjadi teladannya, sehingga mereka mentransfer spirit yang buruk kepada anak didiknya yang adalah calon-calon pendeta. Betapa rusaknya gereja yang menerima lulusan Sekolah Teologi dengan spirit yang buruk tersebut. Lulusan itu hanya mentransfer “ilmu teologi”, tetapi tidak menunjukkan keteladanan gambar diri anak Allah yang serupa dengan Yesus.

Selamat hari Senin. Selamat berkarya.
Gbu – at Pacet

View on Path

KEBUTAAN MENGENAL DIRI

Dalam kebutaan atau kebodohan mengenal dirinya, banyak orang menilai dirinya terlalu tinggi, tetapi ada juga yang memandang dirinya terlalu rendah dengan ukuran nilai-nilai yang salah. Orang yang memandang dirinya terlalu tinggi, cenderung percaya diri dan merasa yakin pasti diterima oleh siapa pun dan di manapun. Pada umumnya hal ini biasanya dianggap sebagai positif. Padahal, orang yang memiliki percaya diri bukan berarti telah memiliki gambar diri yang benar. Adapun kalau seseorang memandang dirinya rendah, maka akan cenderung rendah diri atau minder. Orang yang minder sebenarnya adalah orang sombong dari sudut dan cara yang berbeda. Mereka belum memiliki gambar diri yang benar.

Definisi orang sombong adalah orang yang merasa bahwa dirinya memiliki nilai lebih dibandingkan dengan manusia lain dengan ukurannya sendiri. Orang seperti ini biasanya menghormati orang yang dipandang memiliki sesuatu lebih dari dirinya sendiri. Di lain pihak, ia memandang rendah orang yang tidak memiliki sesuatu lebih dari dirinya. Dengan pola berpikir seperti ini, maka mereka tidak akan pernah dapat melayani sesamanya. Mereka terkunci dalam keangkuhan diri yang sia-sia. Betapa tragisnya ketika semua yang dianggap sebagai nilai lebih tersebut lenyap dalam sekejap. Karena tidak memiliki nilai-nilai yang benar, maka banyak manusia tersandera oleh pola berpikirnya yang sesat dan terus menjalani hidup dalam lingkaran penyesatan yang semakin membelenggu hidup.

Orang minder adalah orang yang juga menetapkan suatu standar atau nilai. Karena tidak mencapai standar atau nilai tersebut, maka ia menjadi minder atau rendah diri. Orang minder adalah orang yang tidak menerima dirinya sebagaimana adanya. Orang seperti ini tidak mengucap syukur atas apa yang ada pada dirinya. Itulah letak kesombongannya. Sebenarnya, kalau ia menerima keberadaannya, maka ia tidak akan menjadi minder. Orang yang memandang diri terlalu rendah bukan saja cenderung minder tetapi juga mudah memiliki perasaan tertolak dan perasaan negatif lainnya. Tidak jarang mereka menjadi mudah tersinggung. Dalam hal ini terjadilah fakta menarik di mana orang miskin secara materi tidak menyadari dan mengakui kemiskinannya, orang yang tidak berpendidikan tinggi tidak mengakui keberadaanya sebagai tidak berpendidikan tinggi dan lain sebagainya. Inilah konyolnya, di mana ada orang-orang yang sudah miskin, tidak berpendidikan tinggi dan tidak memiliki sesuatu yang bernilai di mata manusia dan tidak menyadari keadaannya, tetapi berusaha untuk tetap memiliki nilai diri di mata manusia lain.

Perbaikan atas keadaan diri minder tersebut melalui keselamatan dalam Isa Al Masehi, bukan saja dapat mengembalikan penilaian atas dirinya secara proporsional, sehingga tidak minder lagi, tidak merasa tertolak, tetapi juga dapat mengenakan pikiran dan perasaan Kristus. Hal ini akan membuat seseorang mengerti nilai-nilai yang dikehendaki oleh Allah. Orang yang mengerti nilai-nilai yang dikehendaki oleh Allah tidak menjadi minder dan tidak menjadi sombong. Seseorang tidak menjadi minder atau sombong ketika menyadari bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh nilai-nilai yang dipahami manusia, tetapi pada kesempurnaan seperti Bapa atau serupa dengan Jesus.

Percaya diri sering dianggap sebagai tanda seorang yang sudah menemukan gambar diri. Bila demikian ukurannya, maka ini bukanlah kebenaran Evangelical/Injili. Itu hanyalah pengembangan kepribadian yang juga diajarkan oleh para motivator umum yang lebih bersifat humanis. Pengembangan kepribadian bila diajarkan tanpa kebenaran Injil akan membangun pola pikir yang berpusat kepada diri sendiri dan tidak mengembangkan pola hidup seperti yang disaksikan Paulus yaitu “hidupku bukan aku lagi” (Galatians 2:19-20).

Tuhan menghendaki agar orang percaya memiliki keserupaan dengan-Nya. Itulah sebabnya orang percaya harus “mengenakan pikiran dan perasaan Kristus Yesus”. Inilah usaha menemukan kemuliaan Allah yang hilang atau kurang. Pemaparan mengenai gambar diri menurut Injil yang murni/Evangelical, menggiring seseorang memiliki gambar diri seperti Bapa atau serupa dengan Isa Al Masehi. Oleh karenanya usaha untuk menemukan gambar diri dan mengenakannya harus berangkat dari kebenaran Injil, bukan pada paparan yang biasanya disampaikan para motivator umum.

(Sabtu pagi yg cerah,
dari satu kamar di lantai 9 sebuah hotel di sekitar Tunjungan Plaza, Surabaya) – at Swiss-Belinn Tunjungan

View on Path