Menjadi Garam Dunia

Tema       : “Menjadi Garam Dunia”
Bacaan    : Matius 5:13
Khotbah  : 16 September 2016
Tempat   : Kapel Bethesda

Saya berhari-hari merenungkan kira-kira tema apa atau hal apa yang ingin saya angkat untuk bahan kotbah saya. Akhirnya saya menemukan suatu tema kotbah yang cukup menarik bagi saya, sederhana tapi cukup menggelitik bagi saya dan semoga demikian juga bagi kita semua. Tujuannya agar kita semua bisa mengingat kembali, merefresh, mengerti akan ayat ini, ayat yang special karena diucapkan oleh Yesus sendiri dan dialamatkan langsung kepada murid-muridnya.
Mari kita baca bersama-sama, Matthew 5:13

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Ini adalah bagian dari kotbah terbesar sepanjang jaman yang pernah dilakukan oleh manusia. Bagian dari Kotbah di Bukit. Tema besarnya adalah Yesus mengajarkan bagaimana pengikutnya harus menjalani hidup dan memberi dampak pada lingkungan dimana dia tinggal dengan cara yang positif.
Tapi berapa banyak dari kita ingin menjadi seperti garam? Mungkin kita harus menyarankan Yesus bahwa sudah waktunya untuk merevisi Khotbah di Bukit? “Ya Tuhan, kami menghormati setiap kata Anda, tapi tidak bisa Anda gunakan metafora lebih menarik? Bagaimana, jika diganti “Kamu adalah gula dunia. Jika gula itu menjadi manis, dengan apakah ia dimaniskan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” Hidup di dunia yang kecanduan gula, pasti gula akan menjadi istilah yang lebih diterima bagi orang-orang modern. Garam adalah out-of-date. Gula jauh lebih menarik.
Tapi untuk saat ini kita tetap berpegang pada Injil Kristus Dia mengatakan para pengikutnya bahwa kita dimaksudkan untuk menjadi seperti garam, zat rasa asin yang biasanya digunakan dalam jumlah yang relatif kecil.

Yang menarik dalam kotbah ini, Yesus tidak memberi keterangan rinci mengenai apa maksud Yesus. Hal ini agak berbeda dengan pasal 13 mengenai perumpamaan tentang penabur dimana Yesus secara jelas memberitahu kita apa yang ingin kita mengerti. Dengan demikian, kita harus belajar memahami “Apa artinya itu?”, “Apa arti pentingnya garam?”, “Orang Kristen yang bagaimana yang seperti garam?” Tanpa kita tahu apa arti garam, terutama garam pada masa Yesus kita tidak bisa sungguh-sungguh mengerti dan memahami ayat ini.

GARAM SEBAGAI PENGAWET
Para Bapa Gereja menekankan nilai garam sebagai pengawet “garam mempertahankan daging dari pembusukan, bau dan dari cacing,” kata Origenes. “Itu membuat daging bisa dimakan untuk jangka waktu lama.”
Sifat dan kegunaan garam yang menonjol adalah sebagai pengawet dan mencegah pembusukan. Pada dasarnya, garam bekerja dengan mengeringkan makanan. Garam menyerap air dari makanan, membuat lingkungan terlalu kering untuk mendukung tempat berbahaya atau bakteri. Garam menarik air keluar dari sel melalui proses osmosis. Jika Anda menambahkan cukup garam, terlalu banyak air akan habis dari sel. Organisme yang membuat busuk makanan dan menyebabkan penyakit yang dibunuh oleh konsentrasi garam yang tinggi.
Garam adalah untuk menghambat proses pembusukan, demikian juga orang Kristen diberi tugas menangkap pembusukan dunia kita.
D. James Kennedy dalam sebuah bukunya memberi uraian menarik mengenai orang Kristen dalam hubungannya dengan pencegahan pembusukan ini,

“Orang Kristen sebenarnya telah memiliki efek positif yang menonjol pada dunia ini. Dampak yang paling dramatis Kristen di dunia adalah bahwa ia telah memberi nilai baru bagi kehidupan manusia. Sebelum Kekristenan pembunuhan bayi, dan membuang anak-anak adalah praktek umum. Rumah sakit seperti yang kita kenal sekarang dimulai melalui pengaruh Kristen. Organisasi Palang Merah dimulai oleh seorang Kristen Injili. Hampir setiap satu dari 123 perguruan tinggi pertama dan universitas di Amerika Serikat memiliki asal-usul Kristen yang kental, didirikan oleh orang-orang Kristen untuk tujuan-tujuan Kristen. Hal yang sama juga terjadi untuk panti asuhan, lembaga adopsi, perlakuan yang manusiawi untuk orang-orang gila, dan daftar berjalan terus dan terus bagi dampak dramatis Kristen di dunia kita.” – D. James Kennedy.

Bahkan lebih jauh lagi D. James Kennedy menyinggung pula bahwa:
“Keterlibatan Amerika secara langsung di banyak konflik regional di seluruh dunia juga didasari sikap dan semangat untuk menjadi garam dan terang dunia.” – D. James Kennedy
Kita tahu hampir tidak ada konflik di dunia ini yang tidak melibatkan Amerika Serikat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pemerintah Amerika banyak terlibat dalam penggulingan-penggulingan pemerintah atau kepala Negara yang dianggap tidak compatible dengan demokrasi. Pemerintah Amerika banyak terlibat langsung baik sendiri maupun bersama-sama dengan Negara-negara lain turun untuk menjaga perdamaian jika ada konflik-konflik atau krisis di sebuah kawasan regional.
Tentu kita boleh tidak setuju dengan pendapat D. James Kenedy ini. Dan masih bisa diperdebatkan Terutama mengenai cara-cara Negara Amerika menjadi Polisi Dunia tetapi kita harus setuju bahwa orang Kristen harus terus memiliki manfaat positif pada dunia kita. Sebagai antiseptik moral, Kristen menjaga korupsi masyarakat di dengan melawan pembusukan moral dengan kehidupan dan kata-kata kita.
Jika kita sebagai orang Kristen kehilangan kualitas Kristus yang membuat kita berbeda dan menjadi seperti masyarakat di sekitar kita, kita tidak lagi memiliki dampak positif. Hanya menjadi hambatan bukan pengawet.
Secara teknis garam tidak bisa kehilangan rasa asin,

GARAM SANGAT BERHARGA
Sebegitu pentingnya garam dalam kehidupan, sehingga Plato menggambarkan garam sebagai “Sebuah material yang dicintai dewa.”, Aristoteles menulis bahwa garam adalah “hadiah musim semi yang berasal dari dewa” dan Homer menyebut garam sebagai “Wahyu Ilahi”.
Pada awal abad ke-6, di sub-Sahara, pedagang Moor rutin diperdagangkan garam ounce untuk ounce untuk emas. Di Abyssinia, garam batu, yang disebut ‘amôlés, menjadi koin dari kerajaan. Masing-masing adalah panjang sekitar sepuluh inci dan tebal dua inci. Garam juga digunakan sebagai uang di daerah lain di Afrika Tengah.
Pada masa Romawi Kuno, harga garam sangat mahal. Oleh karena mahalnya garam pada masa itu lalu dipakai untuk membayar gaji para pekerja dan prajurit dengan salarium (garam). Istilah salarium (Latin) yang maksudnya ‘garam’ itu dipakai untuk gaji yang kemudian diambil ke dalam bahasa Inggris Salary.
Dari semua jalan yang menuju ke Roma, salah satu jalan tersibuk adalah Via Salaria, rute garam, di mana tentara Romawi berbaris mengawal pedagang dgn gerobak sapi penuh kristal berharga melewati Tiber dari tempat garam di Ostia.
Selama Abad Pertengahan, penghargaan yang tinggi garam bahkan menjadi takhayul. Menumpahkan garam dianggap alamat pertanda buruk, pertanda kiamat. (Dalam Leonardo da Vinci melukis The Last Supper, Yudas cemberut ditunjukkan dengan tempat garam terbalik di depannya.) Pada masa itu setelah menumpahkan garam, si penumpah harus melemparkan sejumput itu di bahu kiri karena sisi kiri dianggap menyeramkan, tempat di mana roh-roh jahat cenderung berkumpul.
Amy Vanderbilt Complette Book of Etiket. Sampai akhir abad ke-18, pangkat tamu di perjamuan itu diukur dengan mana mereka duduk dalam kaitannya dengan tempat garam perak sering rumit di atas meja. Tamu makin elit maka akan duduk paling dekat dengan tempat garam, dimana tempat garam itu otomatis dekat dengan tuan rumah.
Jadi ketika Yesus berkata, “Kamu semua Anda adalah garam dunia.” Yesus mengacu pada sekelompok murid yang pada dasarnya tidak berpendidikan dan menyebut mereka sebagai garam dunia. Sungguh martabat besar yang Yesus berikan pada pengikutnya. Suatu pujian besar! Jadi sesungguhnya merupakan pujian besar bagi kita murid-muridnya ketika Yesus berkata kepada kita bahwa kita adalah garam dunia.

Kesimpulan
1. Orang Kristen atau anak Tuhan harus menyadari posisinya sbg garam dunia, ketika Yesus menyebut murid-muridnya sbg kamulah garam dunia itu adalah pujian, atau penempatan yang sangat tinggi, lebih-lebih mengingat kebanyakan murid-muridnya adalah orang biasa yang kurang terdidik. Kita harus punya rasa identitas diri yang baik. Sama seperti garam pada masa lalu. Sangat berharga, sangat tinggi nilainya.
2. Bekerja seperti garam yaitu mencegah pembusukan. Kita tahu bahwa dunia sekitar kita itu penuh kejahatan, banyak orang yang tidak baik, banyak orang menyimpang, banyak orang tidak tau arah, dalam situasi inilah kita harus menggarami mereka. Rajin menyuarakan kebenaran yang berlandaskan Firman Tuhan.
Mathew Henry Commentary dengan sangat bagus menggambarkan bahwa murid-murid yang bekerja seperti garam yaitu bekerja secara diam-diam, walau sedikit tetapi berdampak sampai kemana-mana rasanya, bekerja tanpa terasa dan tanpa adanya penolakan.
3. Yesus mengatakan, “Jika garam menjadi tawar dengan apakah dia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang”. Bagaimana ini? Secara teknis, garam tidak bisa tawar; natrium klorida (NaCl) adalah senyawa yang stabil. Tapi di bagian dunia di mana Yesus hidup, garam dikumpulkan dari sekitar Laut Mati di mana kristal2 yang terbentuk sering terkontaminasi dengan mineral lain. Formasi kristal penuh kotoran dan mineral lain, dan karena garam yang sebenarnya lebih mudah larut dari kotoran, termasuk hujan bisa “mencuci” garam, yang membuat apa yang tersisa jadi kurang layak karena kehilangan asin. Ketika ini terjadi, garam dilempar keluar, karena itu tidak lagi dari nilai apapun baik sebagai pengawet atau penyedap. Ketika garam itu tercuci keluar itu masih tampak seperti garam, tetapi kehilangan rasa. “Salah satu Khasiat garam yg unik yaitu bahwa meskipun mungkin telah kehilangan keasinannya … masih tetap punya salah satu potensi yang sangat dahsyat . bahan langka dan luar biasa, yaitu masih bisa … . menghancurkan kehidupan tanaman di tanah … . prinsip yang sama berlaku dalam kasus orang Kristen . Apakah kehidupan kita baik dan untuk Allah atau malah membuat dampak jahat … . Cara kita hidup , hal-hal yang kita katakan, gaya hidup yang kita adopsi … terus memuat hasil positif atau negatif dalam masyarakat … . hidup kita, apakah kita sadar atau tidak, baik untuk Tuhan atau melawan Dia . Tidak hanya ada jalan tengah . ” [W. Phillip Keller . Salt for Society . (Waco : Word Books , 1981) p . 145-149 ]
4. Orang Kristen atau anak-anak Tuhan seperti garam, supaya bekerja mereka harus kontak atau berelasi dengan orang lain. Seperti yang telah kita mencatat, orang Kristen adalah untuk menjadi kekuatan melestarikan di dunia mana pun Allah telah menempatkan mereka. Tapi garam tidak pernah baik saja ketika ditingal di rak. Agar efektif, garam harus digosok ke daging, dimasukkan di masakan dsb. Dalam cara yang sama orang Kristen dipakai Allah di mana pun ia telah menempatkan mereka. Anak Tuhan harus masuk ke masyarakat luas, ke dunia nyata. Kita di sini masih bukan dunia nyata, dunia nyata itu di luar sana. Tempat ini hanya tempat belajar, meskipun semuanya nyata.
Saya ingin kita semua memperhatikan apa yang Yesus katakan dan tidak katakan, Dia tidak mengatakan, “Kamu semua bisa menjadi garam dunia.” Dia juga tidak mengatakan, “Kamu semua harus menjadi garam dunia.” Kata Yesus ” Kamu adalah garam duna!” dan dalam bahasa Yunani secara harfiah berarti “Kamu dan kamu sendiri adalah garam dunia!”
Amin.

7 Characteristics of Highly Effective Church Leaders.

1. Selalu tepat waktu, tidak terburu-buru atau berlambat-lambat.
Jika selalu tepat waktu, itu artinya kita sangat menghargai orang lain termasuk waktu yang sangat berharga yang orang lain miliki.

2. Mengerjakan “Pe-eR”.
Sesibuk apapun, kita harus merencanakan dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, walau tidak sempurna. Perhitungkan rentang waktu, tenaga, sumber daya, dana dan segala hal yang terkait dengan baik. Jangan mendadak. Segala hal yang mendadak atau terburu-buru hanya menunjukkan ketidakmatangan kita sebagai pemimpin. Sesibuk apapun, kita harus mempersiapkan diri bahkan termasuk membuat catatan kecil dan coretan-coretan yang menunjang pekerjaan dan pelayanan.

3. Memanggil dengan nama.
Sangat menyenangkan jika nama kita diingat dan diucapkan oleh orang lain.Jika ingin jadi pemimpin yang baik, ingatlah nama! Panggil semua orang, apapun latarbelakang, posisi dan jabatan dengan namanya.

4. Bukan masalah untuk tidak pandai dalam segala hal.
Banyak orang berpikir bahwa pemimpin harus pandai dalam segala hal. Itu tidak benar. Jika kita tidak pandai dalam segala hal tidak perlu minta maaf, tidak perlu menyesal, tidak usah pura-pura mengerti atau pandai. Secara jujur dan tulus minta tolong kepada orang lain atau staff yang ahli dalam hal itu dan jaga hati kita tetap damai dan fokus pada tugas, pekerjaan dan pelayanan.

5. Segera tindak lanjuti dengan cepat.
Pelajarannya sederhana, jangan memberi janji jika kita tidak bisa menepatinya.

6. Menanggapi pekerjaannya – bukan dirinya – secara serius.
Pemimpin yang baik akan menanggapi dan mengerjakan tugas pekerjaannya secara serius tetapi mereka tetap akan menjadi pribadi yang baik, humble, rendah hati bahkan humoris. Jika terbalik, maka akibatnya kita akan menjadi pribadi yang arogan, tinggi hati, cenderung pemarah, merasa selalu benar tetapi pekerjaan kita justru kurang maksimal.

7. Secara luar biasa harus membumi dan berpijak di tanah.
Pemimpin yang baik adalah orang-orang yang terlihat “biasa saja” yang kita merasa enak ada di dekatnya. Jika menanggapi diri – bukan pekerjaannya – terlalu tinggi dan serius maka itu akan membatasi kepemimpinannya. Pemimpin yang baik tahu persis dari mana dia berasal dan sadar penuh bahwa tugas utama pemimpin adalah melayani. – at Pacet

View on Path

5 Orang Berbahaya yang Bisa Merusak Gereja Anda

1. Tipe Finansial Kontroler.
Setiap gereja membutuhkan nasihat bijak dari orang-orang kudus yang lebih tua, termasuk mereka yang memiliki pengalaman bisnis. Tapi kadang-kadang ketika orang yang belum dewasa rohaninya diletakkan dalam posisi seperti itu, mereka dapat mengembangkan rasa kepemilikan atau hak. Jika ini tidak di cegah, mereka mulai menggunakan uang mereka untuk membeli pengaruh, dalam banyak gereja, jemaat kaya telah menyuap jalan mereka ke tempat nikmat sehingga mereka dapat membuat keputusan, pendeta yang lemah tidak akan menantang perilaku ini karena mereka takut menyinggung donor besar.

2. Tipe Berpusat Diri Sendiri dan atau Pencari Perhatian.
Kita harus mengajar para pencari perhatian dan orang yang berpusat diri sendiri yang belum matang bahwa Tuhan harus menghancurkan semua kepentingan diri sendiri, dan kita harus mengajarkan tentang melayani ketika tidak ada orang lain melihat.

3. Tipe Penyebar Kepahitan
Gereja penuh dengan orang-orang yang telah disakiti oleh orang lain, bahkan oleh pendeta atau dengan anggota gereja lainnya. Itu bisa dimengerti. Tapi jika seseorang belum diselesaikan sakitnya, mereka bisa menyebarkan kebencian dan kepahitan mereka seperti kanker. Ibrani 12:15 memperingatkan kita untuk berhati-hati dengan mereka yang punya “akar pahit” karena ini akan menimbulkan masalah dan menajiskan banyak orang. Kepahitan adalah sering menjadi penyebab perpecahan bahkan dalam gereja. Jangan pernah membiarkan orang yang penuh kepahitan dan kebencian untuk berada dalam posisi penting dan posisi kepemimpinan pada khususnya.

4. Predator Seksual.
Sikap waspada ini sangat penting dalam lingkungan seksual yang bebas pada jaman ini. Serigala memangsa yang tidak bersalah dan itu termasuk anak-anak, perempuan korban kekerasan yang memiliki harga diri yang rendah dan siapa saja berjuang dengan kebingungan seksual. Gereja harus menegakkan aturan ketat tentang yang bekerja dengan anak-anak dan remaja. Dan kita harus bersedia untuk melawan siapapun orang-orang amoral baik pria atau wanita yang menggunakan gereja untuk menemukan pasangan seks baru.

5. Tipe Orang yang Kekanak-kanakan.
Hampir sama dengan Tipe orang yang Berpusat Diri Sendiri dan Egois, tipe ini sangat menguras emosi, pikiran dan perasaan. Susah mendengar, susah mengerti dan memahami, susah dikoreksi. Jangan pernah menempatkan orang dengan tipe seperti ini dalam posisi penting apalagi memimpin. – at Pacet

View on Path

Kebutuhan Kerajaan vs Kebutuhan Kita dlm Leadership.

Leadership kadang terlihat sangat glamour dan menjanjikan, tapi pertama sebaiknya harus dilihat sebagai kesempatan utk melayani ketimbang kesempatan untuk dilayani.
Kebanyakan pemimpin pada masa sekarang terlalu berkonsentrasi pada keuntungan yg menyertai pada jabatannya. Orang-orang yg bekerja sebagai Managers, CEOs, Executives, Pastors atau Direktur yg suka cepat minta kenaikan gaji, bonus liburan, fasilitas kendaraan dan tempat parkir dan sebagainya akan berkata itu normal.
Tetapi Tuhan melihat dan mendeskripsi leadership dgn spectrum dan pandangan berbeda. (Mark 9:35)
Leadership jelas bukan tentang kejayaan, harta kekayaan, kuasa dan otoritas yg menyertai posisi dan jabatan itu. Leadership dan kepemimpinan adalah kesiapan membuat perbedaan dalam hidup orang lain dgn menguatkan dan mendorong orang lain secara efektif berbuat hal-hal besar bahkan agar mereka bisa berbuat hal-hal yg lebih besar dari yg kita lakukan sekarang.

“Leadership, as demanded by the Father and as portrayed by Jesus, calls for people to serve not be served!”

Pemimpin yg sombong adalah selalu merupakan berita buruk dalam sebuah organisasi atau komunitas, dan pemimpin model begitu sangat banyak dimana-mana. Dunia ini sangat membutuhkan banyak pemimpin yg bertindak dan bertingkah laku dgn penuh kerendahhatian.
Leadership datang bersama dgn kepercayaan dan penyerahan total penuh pada Jesus dan otoritas-Nya yg akan memberi kita pengaruh lebih besar dan hasil lebih besar pada lingkungan kita.
Leadership bukanlah soal keinginan kita dan nama kita dipajang dalam papan dari emas, tapi soal dengan rendah hati dan ramah saling melayani dan melayani Tuhan dengan kesadaran penuh bahwa tidak ada upah yg lebih besar selain Kristus dan bahagia melihat orang lain terangkat oleh karena kita. Itulah bagaimana Jesus bekerja dan itulah cara bekerja yg terbaik yg bisa kita lakukan. – at Pacet

View on Path

HYMNE VS KONTEMPORER

Dewasa ini, dengan banyaknya aliran dan denominasi gereja dan pandangan teologis yang menyertainya secara umum juga berdampak pada tata ibadah dan liturgy dari gereja-gereja tersebut. Tata ibadah dan liturgy gereja yang berbeda-beda tersebut ternyata secara tidak langsung juga berdampak pada lagu-lagu yang dibawakan dan dinyanyikan  dalam rangkaian ibadah tersebut. Bahkan barangkali demokrasi dan liberalisasi yang masuk dalam gereja turut mengambil peranan dalam dinamika gereja, termasuk dalam music dan lagu di gereja.

Gereja-gereja yang boleh disebut sebagai aliran mainstream pada umumnya lebih suka mempertahankan dan memakai lagu-lagu hymne yang telah berusia ratusan tahun. Di dalam pelayanannyapun mereka masih mempertahankan citra klasiknya dengan mengiri jemaat menyanyi lagu hymne dengan hanya menggunakan iringan piano atau organ. Hal ini mungkin juga dikarenakan menyesuaikan dengan tata-ibadahnya.  Sebaliknya gereja-gereja yang lahir pada beberapa deckade belakangan ini, dengan pandangan teologis baru dan terpengaruh oleh demokratisasi bahkan liberalisasi gereja cenderung memainkan dan menyanyikan lagu-lagu pujian dan penyembahan yang baru bukan hymne. Seiring dengan tata-ibadahnya, biasanya dalam mengiring lagu-lagu pujian dan penyembahan yang kontemporer mereka memakai alat music yang lebih lengkap dan modern, bahkan dalam kasus tertentu ditambah lengkap dengan pentata-cahayaan lampu yang bagus dan luar biasa. Hampir mirip dengan konser sebuah supergroup rock yang megah dan bahkan kadang ada juga yang seperti mistis layaknya konser rock psychedelic.

Untuk saat ini, ada begitu banyak pendapat orang yang kurang suka dengan lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer dengan mengatakan bahwa biasanya lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer itu dangkal, miskin bahkan salah secara teologis dan tidak layak dinyanyikan meski lirik dan nadanya bagus. Hal ini sekilas ada benarnya. Tetapi kita harus meninjau sedikit lebih jauh lagi untuk melihat masalah ini dengan jernih. Mengapa lagu-lagu hymne terlihat “sangat besar” dibandingkan dengan lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer? Banyak orang tidak menyadari, bahwa satu generasi pencipta lagu pujian dan penyembahan kontemporer jelas tidak bisa bersaing dengan lima puluh generasi penulis lagu hymne. Hymne pada masa lalu diciptakan oleh orang-orang dengan bakat luar biasa misalnya Charles Wesley, Fanny J. Crosby, Newton dan yang lain-lainya. Mereka semua disamping punya bakat yang luar bisa, mereka hidup relative di jaman dan peradaban yang sama sekali berbeda dengan jaman sekarang. Selain itu yang harus disadari benar oleh kita semua, bahwa sebetulnya lagu-lagu pujian yang ada di buku-buku lagu di gereja adalah kumpulan dari lagu (hymne) “the best of the best”, hanya kumpulan yang terbaik dari yang baik. Kumpulan dari hymne terbaik dari hymnwriter sepanjang masa. (Sebagai contoh hanya 42 hymne dari 6500 hymne karya Charles Wesley yang masuk dalam buku hymne Methodist, atau Paul Gerhardt yang dianggap sebagai penulis hymn terbaik Jerman tapi tidak sampai sepuluh karya hymnenya yang masuk dalam buku-buku hymne.) Jadi para editor buku hymne bisa terus memilih hymne terbaik setiap generasi untuk mewakilinya untuk dimasukkan dalam buku hymnenya. Saya setuju jika hymne itu meski sudah berusia ratusan tahun yang lalu tapi akan bertahan terus hingga ratusan tahun mendatang, tetapi betapapun “besar” kelihatannya hymne itu, penciptaan lagu hymne baru cenderung berhenti. Penciptaan hymne yang sebagus dan seindah karya hymnwriters masa lalu sudah jarang dibuat lagi.

Saya pribadi berpendapat bahwa sekarang itu saat “fajar menyingsing” bagi lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer, meski para pencipta lagu pujian dan penyembahan kontemporer masih butuh beberapa generasi lagi untuk mendapat kualitas teologis dan musik yang “sama” dengan pencipta hymne di masa lalu. Hal ini terlihat dengan banyaknya gereja mainstream yang mulai membuka diri dengan memasukan lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer dalam ibadah mereka bahkan sudah menyisipkannya dalam tambahan buku-buku lagu pujian mereka. Bangkitnya lagu pujian dan penyembahan kontemporer pada jaman sekarang tidak terlepas dengan situasi dan kondisi saat ini dimana keadaannya jelas berbeda dengan situasi pada masa ratusan tahun lalu. Sebagai contoh, diluar masalah teologis, pada saat ini ada industri musik luar biasa yang didukung dengan tehnologi yang luar biasa dan beyond imagination, dengan perangkat sound system dan piranti digital yang mutakhir, hal ini diakui atau tidak juga factor pendorong industrialisasi lagu-lagu gereja dan music gereja, dalam hal ini khususnya lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer. Bahkan lagu-lagu “hymne” pun merasakan dampak keuntungannya dengan munculnya rekaman-rekaman baru dalam bentuk digital, CD, DVD bahkan MP3 yang bisa diunduh di internet dengan mudah. Hal ini semua mendorong generasi baru, orang-orang cinta Tuhan untuk makin kreatif dan berani mengekspresikan diri dan dengan berani pula menyambut berkat-berkat-Nya sebagai konsekuensi logis.

Mungkin pada suatu ketika kelak, ratusan tahun yang akan datang, seiring bertambahnya pengalaman dan pemahaman teologis para pencipta lagu dan musisi lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer, maka lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer akan menjadi suatu “hymne” jenis baru yang sama besarnya dan sama “sakral”nya dengan hymne yang selama ini kita kenal. Tidak salah jika gereja masa kini mulai menyesuaikan diri dengan memakai kedua jenis lagu yang dipandang baik dan sesuai kebutuhan dalam tata ibadahnya.

Amin.

New Creation

Kemarin tanggal 25 Maret bertepatan dengan hari Jumat Agung, hari memperingati wafatnya Jesus Kristus di kayu salib sekitar 2000 .tahun lalu. Hari itu, tanggal 25 Maret juga bertepatan dengan hari ulang tahunku. Bagaimana aku memaknainya? Sebuah pertanyaan yang cukup berharga untuk ditanyakan. Tanggal yang satu memperingati kematian, tanggal yang satu memperingati kelahiran. Maknanya teramat sangat besar dan berarti bagiku.Maknya bagiku adalah Jesus mati supaya aku mempunyai hidup, mempunyai kesempatan baru, kesempatan baru yang sangat indah dan berharga, hidup di dalam-Nya, menjadi ciptaan baru (new creation) di dalam Dia.

Ada ayat yang sangat bagus dan secara pribadi sangat aku suka. Suatu kalimat yang sangat indah artinya.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2Corinthians 5:17)

Apa tandanya orang yang lahir baru dan menjadi ciptaan baru?

  1. Dia hidup dipimpin oleh Roh

Ciri-cirinya adalah dia hidup tidak lagi menurut daging. Rasul Paulus mengatakan Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka). Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.  Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.” (Colossians 3:5-10)

Ciri lainnya adalah dia hidup mengejar kekudusan. Dalam surat di Efesus disebutkan bahwa: yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Ephesians 4:22-24)

  1. Memandang segala sesuatu dengan cara berbeda

Ciri-cirinya adalah dia tidak lagi memandang dunia dengan sudut pandang kedagingan (fleshy-stand). “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.“ (2Corinthians 4:18)

Ciri lain selanjutnya adalah dia akan memandang relasi antar manusia dengan cara baru, manusia lain bukan obyek, baik obyek sex maupun obyek kemarahan dan kepahitan kita. Tapi obyek Kasih. Jesus jelas mengajarkan “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (John 13:34-35)

Ciri lainnya yang menonjol adalah dia tidak mengenal takut. Rasul Paulus dengan sangat baik mengajarkannya Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.  Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.  Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” (Colossians 3:1-4)

  1. Punya tujuan hidup baru

Cirinya, sekarang dia hidup untuk Tuhan. Ya, setelah memahami arti pengorbanan Kristus dan meyakini jaminan keselamatan yang diberikan-Nya, maka akan tumbuh kerinduan untuk memberitakan Kasih-Nya, sebuah Berita Sukacita bagi dunia. Rasul Paulus sendiri dengan sangat antusias mengatakan “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Romans 6:1-4)

Ciri kedua setelah mempunya tujuan hidup baru adalah dia menyadari siapa dirinya dan akan hidup sebagai hamba dan duta (ambassador) Kerajaan Allah. Rasul Paulus dengan baik mengatakan “Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” (2 Corinthians 5:18-20)

Amin.