Suicide Squad (2016) Soundtrack

Salah satu soundtrack film terbaik yang pernah dibuat. Soundtrack lagunya kaya, dari berbagai genre dan berbagai era. Kebanyakan sudah cukup lama akrab di telingaku, cukup kukenal, sehingga mendengarkannya makin terasa menyenangkan. Serasa diajak melakukan perjalanan kemana-mana. Sayang sekali banyak lagu bagus yang muncul di film tidak dimasukkan ke dalam CD album resminya.

I Started a Joke
ConfidentialMX featuring Becky Hanson

House Of The Rising Sun
Traditional
Arranged by Alan Price
Performed by The Animals
Courtesy of ABKCO Music & Records, Inc.
Courtesy of Warner Music UK Ltd

You Don’t Own Me
Written by Dave White (as David White) and John Madara
Performed by Lesley Gore
Courtesy of Island Records
Under license from Universal Music Enterprises

Sympathy For The Devil
Written by Mick Jagger and Keith Richards
Performed by The Rolling Stones
Courtesy of ABKCO Music & Records, Inc.

Standing In The Rain
Written by Ariyan Arslani, Mark Ronson, Dan Auerbach and Vincent F. Bell
Produced by Mark Ronson
Performed by Action Bronson, Mark Ronson and Dan Auerbach
Action Bronson appears courtesy of Atlantic Recording Corporation
Dan Auerbach appears courtesy of Nonesuch Records
Mark Ronson appears courtesy of RCA Records/Columbia Records/Sony Music Entertainment UK Limited

Super Freak
Written by Rick James and Alonzo Miller
Performed by Rick James
Courtesy of Motown Records
Under license from Universal Music Enterprises

Purple Lamborghini
Written by Skrillex (as Sonny Moore), Rick Ross (as William Roberts) and Shamann Cooke
Produced by Skrillex and Beat Billionaire
Performed by Skrillex and Rick Ross
Skrillex appears courtesy of OWSLA/Big Beat/Atlantic Recording Corporation
Rick Ross appears courtesy of Def Jam Recordings

Dirty Deeds Done Dirt Cheap
Written by Angus Young, Bon Scott and Malcolm Young
Performed by AC/DC
Courtesy of Columbia Records
By arrangement with Sony Music Licensing

Slippin’ Into Darkness
Written by Charles W. Miller (as Charles Miller), Harold R. Brown (as Harold Brown), Howard E. Scott (as Howard Scott), Lonnie Jordan (as Le Roy Jordan), Lee Oskar, Morris D. Dickerson (as Morris Dickerson) and Thomas Allen
Performed by War
Courtesy of Far Out Productions, Inc
By arrangement with BMG Rights Management (US) LLC

Fortunate Son
Written by John Fogerty
Performed by Creedence Clearwater Revival
Courtesy of Fantasy Records
By permission of Concord Music Group, Inc.

Black Skinhead
Written by Kanye West, Guy-Manuel De Homem-Christo, Thomas Bangalter, Lupe Fiasco (as Wasalu Jaco), Malik Jones, Mike Dean, Cydel Young, Noah Goldstein, Sakiya Sandifer, Elon Rutberg and Derek Watkins
Performed by Kanye West
Courtesy of Def Jam Recordings
Under license from Universal Music Enterprises

Gangsta
Written by Jeremy Coleman, Andrew Swanson, Jason Evigan, Skylar Grey, Jacob Luttrell (as Jacob Elisha Luttrell) and Kehlani Parrish
Produced by JMIKE and Djemba
Performed by Kehlani
Kehlani appears courtesy of TSNMI/Atlantic Recording Corporation

Over Here
Written by Aaquil Brown, Khalif Brown, Andre Harris, Marquel Middlebrooks, Pierre Ramon Slaughter (as Pierre Slaughter) and Michael Williams
Performed by Rae Sremmurd feat. Bobo Swae
Courtesy of Interscope Records
Under license from Universal Music Enterprises

Know Better
Written by Kevin Gates (as Kevin Gilyard), Jeremy Coleman, Tinashe Sibanda, Jim Lavigne, James Abrahart (as James “JHart” Abrahart), Gamal Lewis and Frank “Nitty” Brim
Produced by JMIKE and T-Collar
Performed by Kevin Gates
Kevin Gates appears courtesy of Bread Winners’ Association/Atlantic Recording Corporation

Paranoid
Written by Geezer Butler (as Terence Butler), Tony Iommi (as Anthony Iommi), Ozzy Osbourne (as John Osbourne) and Bill Ward (as William Ward)
Performed by Black Sabbath
Courtesy of Downlane Limited

Seven Nation Army
Written by Jack White
Performed by The White Stripes
Courtesy of Third Man Records

Without Me
Written by Eminem (as Marshall Mathers), Jeff Bass (as Jeffrey Bass), Anne Dudley, DJ Head (as Kevin Bell), Trevor Horn and Malcolm McLaren
Performed by Eminem
Courtesy of Interscope Records
Under license from Universal Music Enterprises

Spirit In The Sky
Written and Performed by Norman Greenbaum
Courtesy of Trans/Tone Productions, Inc.
By arrangement with Ace Music Services LLC

Come Baby Come
Written by Joseph Gardner and K7 (as Louis Sharpe)
Performed by K7
Courtesy of Tommy Boy Music
By arrangement with Warner Music Group Film & TV Licensing

I’d Rather Go Blind
Written by Ellington Jordan and Billy Foster
Performed by Etta James
Courtesy of Geffen Records
Under license from Universal Music Enterprises

Symphony No. 3, Op. 36 ‘Symphony of Sorrowful Songs’: III. Lento – Cantabile semplice
Written by Henryk Mikolaj Górecki (as Henryk Górecki)
Performed by Narodowa Orkiestra Symfoniczna Polskiego Radia w Katowicach (as Polish National Radio Symphony Orchestra) conducted by Antoni Wit
Courtesy of Naxos
By arrangement with Source/Q

Bohemian Rhapsody
Written by Freddie Mercury
Performed by Queen
Courtesy of Hollywood Records Inc.
Courtesy of Island Records Limited
Under license from Universal Music Enterprises

Heathens
Written by Tyler Joseph
Produced by Mike Elizondo and Tyler Joseph
Performed by Twenty One Pilots
twenty one pilots appear courtesy of Fueled by Ramen, LLC

Sucker For Pain
Written by Alex da Kid (as Alexander Grant), Lil’ Wayne (as Dwayne Carter), Wiz Khalifa (as Cameron Thomaz), Wayne Sermon (as Daniel Sermon), Dan Reynolds (as Daniel Reynolds), Ben McKee (as Benjamin McKee), Daniel Platzman, Logic (as Robert Hall), Ty Dolla Sign (as Tyrone Griffin Jr.) and Sam Harris
Produced by Alex da Kid
Performed by Lil’ Wayne, Wiz Khalifa & Imagine Dragons with Logic and Ty Dolla Sign (as Ty Dolla $ign) (Feat. X Ambassadors)
Lil Wayne appears courtesy of Cash Money Records
Wiz Khalifa appears courtesy of Rostrum Records/Atlantic Recording Corporation
Imagine Dragons appear courtesy of KIDinaKORNER/Interscope Records
Logic appears courtesy of Def Jam Recordings
Ty Dolla $ign appears courtesy of Atlantic Recording Corporation
X Ambassadors appear courtesy of KIDinaKORNER/Interscope Records

Advertisements

HYMNE VS KONTEMPORER

Dewasa ini, dengan banyaknya aliran dan denominasi gereja dan pandangan teologis yang menyertainya secara umum juga berdampak pada tata ibadah dan liturgy dari gereja-gereja tersebut. Tata ibadah dan liturgy gereja yang berbeda-beda tersebut ternyata secara tidak langsung juga berdampak pada lagu-lagu yang dibawakan dan dinyanyikan  dalam rangkaian ibadah tersebut. Bahkan barangkali demokrasi dan liberalisasi yang masuk dalam gereja turut mengambil peranan dalam dinamika gereja, termasuk dalam music dan lagu di gereja.

Gereja-gereja yang boleh disebut sebagai aliran mainstream pada umumnya lebih suka mempertahankan dan memakai lagu-lagu hymne yang telah berusia ratusan tahun. Di dalam pelayanannyapun mereka masih mempertahankan citra klasiknya dengan mengiri jemaat menyanyi lagu hymne dengan hanya menggunakan iringan piano atau organ. Hal ini mungkin juga dikarenakan menyesuaikan dengan tata-ibadahnya.  Sebaliknya gereja-gereja yang lahir pada beberapa deckade belakangan ini, dengan pandangan teologis baru dan terpengaruh oleh demokratisasi bahkan liberalisasi gereja cenderung memainkan dan menyanyikan lagu-lagu pujian dan penyembahan yang baru bukan hymne. Seiring dengan tata-ibadahnya, biasanya dalam mengiring lagu-lagu pujian dan penyembahan yang kontemporer mereka memakai alat music yang lebih lengkap dan modern, bahkan dalam kasus tertentu ditambah lengkap dengan pentata-cahayaan lampu yang bagus dan luar biasa. Hampir mirip dengan konser sebuah supergroup rock yang megah dan bahkan kadang ada juga yang seperti mistis layaknya konser rock psychedelic.

Untuk saat ini, ada begitu banyak pendapat orang yang kurang suka dengan lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer dengan mengatakan bahwa biasanya lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer itu dangkal, miskin bahkan salah secara teologis dan tidak layak dinyanyikan meski lirik dan nadanya bagus. Hal ini sekilas ada benarnya. Tetapi kita harus meninjau sedikit lebih jauh lagi untuk melihat masalah ini dengan jernih. Mengapa lagu-lagu hymne terlihat “sangat besar” dibandingkan dengan lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer? Banyak orang tidak menyadari, bahwa satu generasi pencipta lagu pujian dan penyembahan kontemporer jelas tidak bisa bersaing dengan lima puluh generasi penulis lagu hymne. Hymne pada masa lalu diciptakan oleh orang-orang dengan bakat luar biasa misalnya Charles Wesley, Fanny J. Crosby, Newton dan yang lain-lainya. Mereka semua disamping punya bakat yang luar bisa, mereka hidup relative di jaman dan peradaban yang sama sekali berbeda dengan jaman sekarang. Selain itu yang harus disadari benar oleh kita semua, bahwa sebetulnya lagu-lagu pujian yang ada di buku-buku lagu di gereja adalah kumpulan dari lagu (hymne) “the best of the best”, hanya kumpulan yang terbaik dari yang baik. Kumpulan dari hymne terbaik dari hymnwriter sepanjang masa. (Sebagai contoh hanya 42 hymne dari 6500 hymne karya Charles Wesley yang masuk dalam buku hymne Methodist, atau Paul Gerhardt yang dianggap sebagai penulis hymn terbaik Jerman tapi tidak sampai sepuluh karya hymnenya yang masuk dalam buku-buku hymne.) Jadi para editor buku hymne bisa terus memilih hymne terbaik setiap generasi untuk mewakilinya untuk dimasukkan dalam buku hymnenya. Saya setuju jika hymne itu meski sudah berusia ratusan tahun yang lalu tapi akan bertahan terus hingga ratusan tahun mendatang, tetapi betapapun “besar” kelihatannya hymne itu, penciptaan lagu hymne baru cenderung berhenti. Penciptaan hymne yang sebagus dan seindah karya hymnwriters masa lalu sudah jarang dibuat lagi.

Saya pribadi berpendapat bahwa sekarang itu saat “fajar menyingsing” bagi lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer, meski para pencipta lagu pujian dan penyembahan kontemporer masih butuh beberapa generasi lagi untuk mendapat kualitas teologis dan musik yang “sama” dengan pencipta hymne di masa lalu. Hal ini terlihat dengan banyaknya gereja mainstream yang mulai membuka diri dengan memasukan lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer dalam ibadah mereka bahkan sudah menyisipkannya dalam tambahan buku-buku lagu pujian mereka. Bangkitnya lagu pujian dan penyembahan kontemporer pada jaman sekarang tidak terlepas dengan situasi dan kondisi saat ini dimana keadaannya jelas berbeda dengan situasi pada masa ratusan tahun lalu. Sebagai contoh, diluar masalah teologis, pada saat ini ada industri musik luar biasa yang didukung dengan tehnologi yang luar biasa dan beyond imagination, dengan perangkat sound system dan piranti digital yang mutakhir, hal ini diakui atau tidak juga factor pendorong industrialisasi lagu-lagu gereja dan music gereja, dalam hal ini khususnya lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer. Bahkan lagu-lagu “hymne” pun merasakan dampak keuntungannya dengan munculnya rekaman-rekaman baru dalam bentuk digital, CD, DVD bahkan MP3 yang bisa diunduh di internet dengan mudah. Hal ini semua mendorong generasi baru, orang-orang cinta Tuhan untuk makin kreatif dan berani mengekspresikan diri dan dengan berani pula menyambut berkat-berkat-Nya sebagai konsekuensi logis.

Mungkin pada suatu ketika kelak, ratusan tahun yang akan datang, seiring bertambahnya pengalaman dan pemahaman teologis para pencipta lagu dan musisi lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer, maka lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer akan menjadi suatu “hymne” jenis baru yang sama besarnya dan sama “sakral”nya dengan hymne yang selama ini kita kenal. Tidak salah jika gereja masa kini mulai menyesuaikan diri dengan memakai kedua jenis lagu yang dipandang baik dan sesuai kebutuhan dalam tata ibadahnya.

Amin.